Teknik-teknik Pembelajaran
a. Pengertian model pembelajaran inquiry“Model pembelajaran inquiry adalah
rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir
secara kritis dan analisis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban
dari suatu masalah yang dipertanyakan” (Sanjaya, 2006:194).Menurut
piaget (mulyasa, 2008:108) bahwa model pembelajaran inquiry adalah model
pembelajaran yang mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan
eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin
melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mencari
jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan
penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang
ditemukan siswa lain. Dengan melihat kedua pendapat di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran inquiry adalah model pembelajaran yang
mempersiapkan siswa pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri
sehingga dapat berpikir secara kritis untuk mencari dan menemukan
jawaban dari suatu masalah yang
dipertanyakan.Pembelajaran inquiry banyak dipengaruhi oleh aliran
belajar kognitif, menurut aliran ini belajar pada hakikatnya adalah
proses mental dan proses berpikir dengan memanfaatkan segala potensi
yang dimiliki setiap individu secara optimal.
Teori belajar lain yang mendasari pembelajaran inquiry adalah teori
belajar konstruktivistik. Menurut Piaget (Sanjaya,2006:194) pengetahuan
itu dapat bermakna manakala dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa.
Setiap individu berusaha dan mampu mengembangkan pengetahuannya sendiri
melalui skema yang ada dalam struktur kognitifnya. Skema itu secara
terus menerus diperbarui dan diubah melalui proses asimilasi dan
akomodasi. Di sisi lain (Kunandar, 2007:309) pengetahuan dan kemampuan
yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat fakta-fakta,
tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dengan demikian tugas guru adalah
merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi
yang diajarkannya, dan juga mendorong siswa untuk mengembangkan skema
yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi.
b. Karakteristik atau ciri-ciri model pembelajaran inquiryMenurut
Muslich (2008), ada beberapa hal yang menjadi karakteristik atau
ciri-ciri utama pembelajaran inquiry adalah sebagai berikut:1)
Pembelajaran inquiry menekankan pada aktifitas siswa secara maksimal
untuk mencari dan menemukan, artinya pembelajaran inquirymenempatkan
siswa sebagai subjek belajar.2) Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa
diarahkan untuk mencari dan menemukan sendiri sesuatu yang
dipertanyakan sehingga dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self
belief).3) Membuka intelegensi siswa dan mengembangkan daya kreativitas
siswa.4) Memberikan kebebasan pada siswa untuk berinisiatif dan
bertindak.5) Mendorong siswa untuk berfikir intensif dan merumuskan
hipotesisnya sendiri.6) Proses interaksi belajar mengajar mengarahkan
pada perubahan dari teacher centered kepada student centered.
c. Tujuan dan manfaat model pembelajaran inquiryModel
pembelajaran inquiry berorientasi pada siswa yang bertujuan
mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis, logis dan kritis
atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses
mental. Dengan demikian, dalam pembelajaran inquiry siswa tak hanya di
tuntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka
dapat menggunakan potensi yang di milikinya secara optimal (Sanjaya,
2006:195). Adapun manfaat model pembelajaran inquiry ini adalah
meningkatkan kemampuan berfikir siswa untuk mencari dan menemukan
sendiri materi yang akan di pelajarinya, melatih kepekaan diri,
mengurangi rasa kecemasan, menumbuhkan rasa percaya diri, meningkatkan
motivasi, dan partisipasi belajar, meningkatkan tingkah laku yang
positif, meningkatkan prestasi dan hasil belajar.
d. Teknik model pembelajaran inquiryAdapun teknik model
pembelajaran inquiry dapat dikemukakan atau dapat dilihat sebagai
berikut:1) Dapat membantu dan mengembangkan konsep pada diri siswa,
sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih
baik.2) Membantu dan menggunakan ingatan dan transfer pada situasi
proses belajar yang baru.3) Membantu siswa untuk berfikir dan bekerja
atas inisiatifnya sendiri, bersikap objektif, jujur dan
terbuka.4) Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.5) Situasi proses
belajar menjadi lebih merangsang.6) Dapat mengembangkan bakat dan
kecakapan individu.7) Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri.
e. Keunggulan dan kelemahan model
pembelajaran inquiry1) KeunggulanModel
pembelajaran inquiry merupakan model pembelajaran yang banyak di
anjurkan dan digunakan di sekolah khususnya sekolah dasar. Menurut
sanjaya (2006) ada beberapa keunggulan dari model pembelajaran ini
diantaranya adalah:a) Model pembelajaran inquiry merupakan model
pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif,
afektif, dan psikomotor secara seimbang sehingga pembelajaran melalui
model ini dianggap lebih bermakna.b) Model pembelajaran inquiry dapat
memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar
mereka.c) Model pembelajaran inquiry merupakan model pembelajaran yang
dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi moderen yang mengagap
belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya
pengalaman.d) Dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan
diatas rata-rata, artinya siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus
tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam
belajar.2). KelemahanDisamping memiliki keunggulan, model
pembelajaran inquiry juga memiliki kelemahan. Sebagaimana dikemukakan
oleh sanjaya (2006) kelemahannya antara lain:a) Jika model
pembelajaran inquiry digunakan sebagai model pembelajaran, maka akan
sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.b) Model ini sulit
dalam merencanakan pembelajaran oleh karena itu terbentur dengan
kebiasaan siswa dalam belajar.c) Kadang-kadang dalam
mengimplementasikanya memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru
sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.d) Selama
kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai
materi pelajaran, maka model pembelajaran inquiry akan sulit
diimplementasikan oleh setiap guru.
f. Langkah-langkah model pembelajaran inquiryPada dasarnya model
pembelajaran inquiry di lakukan atau ditekankan kepada proses mencari
dan menemukan, dimana materi pelajaran tidak diberikan secara langsung
kepada siswa. Menurut Sanjaya (2006:202) langkah-langkah model
pembelajaran inquiry ini dapat diuraikan sebagai berikut:1)
OrientasiLangkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau
iklim pembelajaran yang responsive. Langkah ini guru mengondisikan siswa
siap melaksanakan proses pembelajaran. Beberapa hal yang dapat
dilakukan dalam tahap ini
adalah: (a)
menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan dapat
dicapai oleh siswa, (b) menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus
dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.2) Merumuskan
masalahMerumuskan masalah adalah langkah membawa siswa kepada persoalan
yang mengadung teka teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang
menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka teki itu.3) Merumuskan
hipotesisHipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang
sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji
kebenarannya.4) Mengumpulkan dataMengumpulkan data adalah aktivitas
menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang
diajukan.5) Menguji hipotesisMenguji hipotesis adalah proses menentukan
jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang
diperoleh berdasarkan pengumpulan data.6) Merumuskan
kesimpulanMerumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan
yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.
Dengan melihat langkah-langkah di atas, maka model pembelajaran inquiry akan efektif manakala:
(1) Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu
permasalahan yang ingin dipecahkan. Dengan demikian dalam
pembelajaran inquiry penguasan, materi pelajaran bukan sebagai tujuan
utama pembelajaran, akan tetapi yang lebih dipentingkan adalah proses
belajar.
(2) Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau
konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu
pembuktian.
(3) Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
(4) Jika guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata
memiliki kemauan dan kemampuan berpikir. pembelajaran inquiryakan kurang
berhasil diterapakan kepada siswa yang kurang memiliki kemampuan untuk
berpikir.
(5) Jika jumlah siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru
b.KONSTRUKTIVISTIK
Asumsi sentral metode kontruktivistik adalah bahwa belajar itu
menemukan. Meskipun guru menyanmpaikan sesuatu kepada siswa mereka
melakukan proses mental atau kerja otak atas infrmasi itu masuk ke dalam
pemahaman mereka. Konsrtruktivistik dimulai dari masalah (sering muncul
dari siswa sendiri) dan selanjutnya membantu siswa menyelesikan dan
menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut.
Metode konstruktivistik ditekankan pada siswa seharusnya diberi
tugas-tugas komplek, sulit, dan realistis. Kemudian mereka diberi
bantuan secukupnya untuk menyelesaikan tugas. Tugas kompleks itu
misalnya proyek, simulasi, menulis untuk dipresentasikan.Mengaitkan
ide-ide dengan pengetahuan sebelumnya dapat dilakukan pada awal sebuah
topik baru, tetapi tidak boleh dibatasi pada bagian pelajaran yang itu
saja. Guru akan perlu mencari tau apakah murud-muridnya tau tentang
topik itu sebelum pembelajaran dimulai (Dejager, 2002).modeling, aspek
kunci lain dari pengajaran konstruktivis, guru melaksanakan sebuah tugas
yang kompleks dan menunjukkan kepada murid proses-proses yang
dibutuhkan untuk melaksanakan tugas itu; atau, guru dapat memberi tau
murid tentang pikiran dan strateginya selama menyelesaikan sebuah
soal.scaffolding, guru memberikan bantuan kepada murid untuk mencapai
tugas-tugas yang belum dapat mereka kuasai sendiri, dan kemudian sedikit
demi sedikit menarik dukungannya.
Coaching adalah proses memotivasi pelajar, menganalisis performa mereka
dan memberikan umpan-balik tentang kinerja mereka. Guru membantu murid
selama mereka melesaikan soal-soal secara mandiri atau di dalam
kelompok, yang akan memotivasi dan mendukung murid.
Salah satu elemen pelajaran konstruktivis adalah artikulasi, yang
mendorong murid untuk mengartikulasikan ide, pikiran dan solusi mereka.
Murid mestinya tidak hanya diberi kesempatan untuk mengkonstrusikan
makna dan mengembangkan pikiran mereka, tapi juga dapat memperdalam
proses-proses ini melalui pengekspresian ide-idenya.
Refleksi terjadi bila murid membandingkan solusinya dengan solusi para
”pakar” atau murid-murid lain. Ini erupakan salah satu momen kunci
belajar dan dapat didorong oleh guru yang memberikan contoh-contoh
tandingan untuk berbagai pendapat yang dikemukakan oleh murid-murid
lain, dan dengan membrikan kesempatan kepada murid untuk mendiskusikan
temuan, dan strategi mereka (Duffi dan Jonassen, 1992).
Elemen lain dalam pengajaran konstruktivis adalah kolaborasi. Ini jelas
berasal dari sisi sosial gerakan konstruktivis, yang menekankan pada
bagaimana anak – anak dapat belajar dari anak lain selama mereka
berkolaborasi dengan sesamanya atau dengan guru.
Kegiatan eksplorasi dan menyelesaikan – masalah adalah bagian – bagian
kunci pelajaran konstruktivis. Keduanya memungkinkan murid untuk
mengembangkan pemikiran dan pemaknaan (meaning making) mereka, dengan
mengembangkan kombinasi – kombinasi ide baru dan dengan memikirkan
tentang hasil – hasil hipotetik dari berbagai situasi dan kejadian yang
dibayangkan (De Jager, 2002) pilihan dan opsi kepada murid. Murid diberi
kesempatan untuk memilih tugas, proyek, atau pekerjaan yang mereka
kerjakan. Alih – alih pelajaran dan tugas yang dirancang oleh guru, guru
bekerja bersama murid untuk merancang berbagai proyek yang akan
memfasilitasi belajar.Fleksibilitas. Alih – alih memiliki rencana
pelajaran yang pasti dan tidak bervariasi, guru – guru konstruktivis
bersikap reaktif, dalam arti membiarkan murid mengarahkan pelajarannya
(paling tidak sampai tingkat tertentu).adaptif. Pembelajaran individual
murid harus dipertimbangkan, bukan hanya dalam hubungannya dengan
kemempuan akademik mereka, tetapi juga gaya belajarnya. Ini berarti
bahwa mengajar perlu dibuat bervariasi, untuk memancing digunakannya
cara – cara belajar murid yang berbeda.multiple realities adalah cara
yang baik untuk mengalihkan murid dari konsepsi bahwa selalu ada sebuah
jawaban yang benar, dan akan membantu mereka menjadi lebih bijak dan
terlibat di dalam pembelajaran yang lebih mendalam.
c.SETS
Definisi SETS menurut the NSTA Position Statement 1990 (dalam Kuswati,
2004:11) adalah memusatkan permasalahan dari dunia nyata yang memiliki
komponen Sains dan Teknologi dari perspektif siswa, di dalamnya terdapat
konsep-konsep dan proses, selanjutnya siswa diajak untuk
menginvestigasi, menganalisis, dan menerapkan konsep dan proses itu pada
situasi yang nyata.
Pendekatan SETS/ Salingtemas diambil dari konsep pendidikan STM (Sains,
Teknologi, dan Masyarakat), pendidikan lingkungan (Environmental
Education/EE), dan STL (Science, Technology, Literacy). Dalam pendekatan
Salingtemas atau SETS (Science, Environmental, Technology and Society)
konsep pendidikan STM atau STL dan EE dipandang sebagai satu kesatuan
yang tidak bisa dipisahkan (Depdiknas, 2002:5).
d.pemecahn masalah
menurut Sudirman, dkk. (1991 : 146) adalah cara penyajian bahan
pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan
untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau
jawabannya oleh siswa.
menurut Sudirman, dkk. (1991 : 146) adalah cara penyajian bahan
pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk
dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya
oleh siswa.
d.Diskusi
Diskusi adalah aktivitas dari sekelompok siswa, berbicara saling
bertukar informasi maupun pendapat tentang sebuah topik atau masalah,
dimana setiap anak ingin mencari jawaban / penyelesaian problem dari
segala segi dan kemungkinan yang ada. (Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan : 1994).
Menurut Hasibun dalam bukunya Proses Belajar Mengajar (2006:10)
mengatakan bahwa diskusi merupakan proses penglihatan dua atau lebih
individu yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka
mengenai tujuan atau sasaran yang sudah tertentu melalui cara menukar
informasi, mempertahankan pendapat atau pemecahan masalah.
Metode diskusi adalah cara penyajian pembelajaran, di mana siswa-siswa
dihadapkan kepada suatu masalah, yang bisa berupa pernyataan atau
pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan
bersama.
F.tanya jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk
pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi
dapat pula dari siswa kepada guru. Hal ini sejalan dengan pendapat
Sudirman (1987:120) yang mengartikan bahwa “metode tanya jawab adalah
cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab,
terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada
guru.”
Lebih lanjut dijelaskan pula oleh Sudirman (1987:119) menyatakan
bahwa metode tanya jawab ini dapat dijadikan sebagai pendorong dan
pembuka jalan bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut
(dalam rangka belajar) kepada berbagai sumber belajar seperti buku,
majalah, surat kabar, kamus, ensiklopedia, laboratorium, video,
masyarakat, alam, dan sebagainya.
Sementara itu, dalam Petunjuk Teknis Kurikulum 1994 (1996:26)
dinyatakatan bahwa “metode tanya jawab adalah suatu cara mengajar atau
menyajikan materi melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang
mengarahkan siswa memahami materi tersebut.
Penggunaan metode ini dengan baik dan tepat, akan dapat merangsang
minat dan motivasi siswa dalam belajar. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam penggunaan metode tanya jawab adalah:
1) Materi menarik dan menantang serta memiliki nilai aplikasi tinggi.
2) Pertanyaan bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan
yang jawabannya hanya satu kemungkinan) dan pertanyaan terbuka
(pertanyaan dengan banyak kemungkinan jawaban).
3) Jawaban pertanyaan itu diperoleh dari penyempurnaan jawaban-jawaban siswa.
4) Dilakukan dengan teknik bertanya yang baik. (Depdikbud, 1996:26).
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode
tanya jawab adalah suatu metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara
pengajuan-pengajuan pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk memahami
materi pelajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Suasana Penerapan Metode Tanya Jawab yang dikehendaki
B. Langkah-Langkah Penggunaan Metode Tanya Jawab
Untuk menghindari penyimpangan dari pokok persoalan,
penggunaan metode tanya jawab harus memperhatikan langkah-langkah
sebagai berikut :
a. Merumuskan tujuan tanya jawab sejelas-jelasnya dalam bentuk tujuan khusus dan berpusat pada tingkah laku siswa.
b. Mencari alasan pemilihan metode tanya jawab.
c. Menetapkan kemungkinan pertanyaan yang akan dikemukakan.
d. Menetapkan kemungkinan jawaban untuk menjaga agar tidak menyimpang dari pokok persoalan.
e. Menyediakan kesempatan bertanya bagi siswa.
Berdasarkan langkah-langkah yang di atas, maka tindakan guru dalam
menggunakan metode tanya jawab harus dipersiapkan secermat mungkin dalam
bentuk rencana pengajaran yang detail dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Menyebutkan alasan penggunaan metode tanya jawab.
2. Mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
3. Menyimpulkan jawaban siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
4. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya pada hal-hal yang belum dipahami.
5. Memberi pertanyaan atau kesempatan kepada siswa untuk bertanya pada hal-hal yang sifatnya pengembangan atau pengayaan.
6. Memberi kesempatan pada siswa untuk menjawab pertanyaan yang relevan dan sifatnya pengembangan atau pengayaan.
7. Menyimpulkan materi jawaban yang relevan dengan tujuan pembelajaran khusus.
8. Memberi tugas kepada siswa untuk membaca materi berikutnya di
rumah dan menulis pertanyaan yang akan diajukan pada pertemuan
berikutnya.
G.pengusan
Salah satu metode yang digunakan dalam pembelajaran
adalah metode resitasiterstruktur. Imansjah Alipandie (1984:91) dalam
bukunya yang berjudul “Didaktik Metodik Pendidikan Umum” mengemukakan
bahwa :”Metode resitasi terstruktur adalah cara untuk mengajar yang
dilakukan dengan jalan memberi tugas khusus kepada siswa untuk
mengerjakan sesuatu di luar jam pelajaran. Pelaksanaannya bisa dirumah,
diperpustakaan, dilaboratorium, dan hasilnya dipertanggungjawabkan.”
Menurud Sudirman. N, (1991:141).
Pengertian metode penugasan/ resitasi adalah cara penyajian bahan
pelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan
kegiatan belajar
Sedangkan Slameto (1990:115) mengemukakan :Metode resitasi terstruktur
adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan memberikan tugas kepada
siswa untuk dikerjakan dalam rentangan waktu tertentu dan hasilnya harus
dipertanggungjawabkan kepada guru.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa metode resitasi terstruktur
adalah pemberian tugas kepada siswa di luar jadwal sekolah atau diluar
jadwal pelajaran yang pada akhirnya dipertanggungjawabkan kepada guru
yang bersangkutan.
Metode resitasi terstruktur merupakan salah satu pilihan metode mengajar
seorang guru, dimana guru memberikan sejumlah item tes kepada siswanya
untuk dikerjakan di luar jam pelajaran. Pemberian item tes ini biasanya
dilakukan pada setiap kegiatan belajar mengajar di kelas, pada akhir
setiap pertemuan atau akhir pertemuan di kelas.
Pemberian tugas ini merupakan salah satu alternatif untuk lebih
menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus. Hal ini
disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan
sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas. Dengan banyaknya
kegiatan pendidikan di sekolah dalam usaha meningkatkan mutu dan
frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa utnuk
melaksanakan kegiatan belajar mengajar tersebut. Rostiyah (1991:32)
menyatakan bahwa untuk mengatasi keadaan seperti diatas, guru perlu
memberikan tugas-tugasdiluar jam pelajaran. Sumiati Side (1984:46)
menyatakan bahwa pemberian tugas-tugas berupa PR mempunyai pengaruh yang
positif terhadap peningkatan prestasi belajar Bahasa Indonesia.
Salah satu strategi belajar Bahasa Indonesiayang baik adalah memperbesar
frekuensi pengulangan materi/ dengan memperbanyak latihan soal-soal
sehingga menjadi suatu keterampilan yang dapat melatih diri
mendayagunakan pikiran.
Tampaknya pemberian tugas kepada siswa untuk diselesaikan di rumah, di
laboratorium maupun diperpustakaan cocok dalam hal ini, karena
dengan tugas ini akan merangsang siswa untuk melakukan latihan-latihan
atau mengulangi materi pelajaran yang baru didapat disekolah atau
sekaligus mencoba ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya, serta
membiasakan diri siswa mengisi waktu luangnya di luar jam pelajaran.
Dengan sendirinya telah berusaha memperdalam pemahaman serta pengertian
tentang materi pelajaran.
Teori Stimulus-Respon (S – R) mendukung dalam hal ini yaitu : Prinsip
utama belajar adalah pengulangan. Bila S diberikan kepada obyek maka
terjadilah R. Dengan latihan, asosiasi antara S dan R menjadi otomatis.
Lebih sering asossosiasi antara S dan R digunakan makin kuatlah hubungan
yang terjadi, makin jarang hubungan S dan R dipergunakan makin lemahlah
hubungan itu (Herman Hudoyo, 1990 : 5).
Di dalam suatu kelas, tingkat kemampuan siswa cukup heterogen, sebagian
dapat langsung mengeri pelajaran hanya satu kali penjelasan oleh guru,
sebagian dapat mengerti bila diulangi dua atau tiga kali materinya dan
sebagian lagi baru dapat mengerti setelah diulangi di rumah atau bahkan
tidak dapat mengerti sama sekali.
Umumnya seorang guru mengatur kecepatan mengajarnya sesuai dengan
keadaan rata-rata siswa dengan beberapa penyesuaian terhadap yang kurang
mampu ataupun yang dianggap pandai. Walaupun demikian kemungkinan
sebagian besar siswa cara belajarnya belum sesuai benar, bagi mereka
masa belajar di kelas merupakan ajang untuk memulai materi.
Pemberian tugas-tugas untuk diselesaikan di rumah, diperpustakaan maupun
di laboratorium akan memberikan kesempatan untuk belajar aktif yang
sesuai dengan irama kecepatan belajarnya. Hal ini merupakan pengalaman
belajar yang sejati bagi individu yang bersangkutan.
Memberikan tugas-tugas kepada siswa berarti memberi kesempatan untuk
mempraktekkan keterampilan yang baru saja mereka dapatkan dari guru
disekolah, serta menghafal dan lebih memperdalam materi pelajaran.
Peranan penugasankepada siswa sangat penting dalam pengajaran, hal ini
dijelaskan oleh I. L. Pasaribu :Metode tugas merupakan suatu aspek
dari metode-metode mengajar. Karena tugas-tugas meninjau pelajaran baru,
untuk menghafal pelajaran yang sudah diajarkan, untuk latihan-latihan,
dengan tugas untuk mengumpulkkan bahan, untuk memecahkan suatu masalah
dan seterusnya (I. L. Pasaribu, 1986:108)
Dalam memberikan tugas kepada siswa, guru diharuskan memeriksa dan
memberi nilai. Rostiyah (1991:113) mengemukakan bahwa dengan
mengevaluasi tugas yang diberikan kepada siswa, akan memberi motivasi
belajar siswa.
H.Metode demontrasi
Metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu
peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang
dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara
nyata atau tiruannya (Syaiful, 2008:210).
Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan
barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik
secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan
dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan (Muhibbin Syah,
2000:22).
Sementara menurut Syaiful Bahri Djamarah, (2000:2) bahwa metode
demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu
proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan
pelajaran.
Menurut Syaiful (2008:210) metode demonstrasi ini lebih sesuai untuk
mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu gerakan-gerakan,
suatu proses maupun hal-hal yang bersifat rutin. Dengan metode
demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan
mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat
mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar